Beberapa hari kemarin, saya mengikuti ujian pemilihan kadus (kepala dusun) di desa saya. Sebenarnya bukan keinginan saya untuk ikut berpartisipasi di dalamnya, namun karena dorongan yang begitu besar dari orang tua serta saudara – saudara dekat lainnya, akhirnya kuberanikan diri untuk ikut dalam pemilihan kadus ini.
Pengumuman bahwa akan diadakan ujian penerimaan kadus sebenarnya sudah diumumkan jauh – jauh hari oleh bagian pemerintahan desa sebelum pembukaan pendaftaran. Persiapan sudah dilaksanakan dengan baik, namun dikarenakan ketidakpastian kapan pembukaan pendaftaran dilakukan, akhirnya ngedown juga. Jadi malas belajar dan ikhtiar berkurang. Setelah menunggu hampir 2 bulan lebih, akhirnya pembukaan pendaftaran pengisian calon kadus dilakukan juga oleh panitia. Dan ternyata waktunya sangat mepet. Kurang lebih hanya diberi waktu 5 hari untuk mengurus administrasi dan belajar.
Administrasinya antara lain harus membuat SKCK, membuat surat keterangan sehat dari dokter, melegalisir ijazah terakhir, membuat surat pernyataan yang jumlahnya ada 5 lembar, membuat surat lamaran yang ternyata harus rangkap 3 dan sering dicomplain oleh panitia jadinya harus mengulang lagi. Akhirnya konsentrasi terpecah, bingung mengurusi administrasi dan harus belajar tentang semua hal yang berhubungan dengan masalah desa.
Memang para panitia memberi ancang – ancang harus belajar ini, dan ini. Namun ternyata materi ujiannya yang keluar lumayan jauh berbeda seperti dengan materi yang dipelajari. Akhirnya hal yang sudah kuperkirakan terjadi. Hasil ujian sebenarnya tidak mengecewakan, hanya saja ada yang lebih baik dariku. Aku hanya menjadi peringkat nomor 2. Jadi, saya gagal untuk menjadi orang nomor satu di dusun saya dech. Lumayan kecewa dengan hasil yang didapat. Saya jadi ingat moto ini, kalau bisa jadi nomor 1, mengapa memilih menjadi nomor 2?
Di dalam hati, saya kecewa dengan pihak panitia yang rata – rata adalah pengurus desa. Saya ingin tidak bertemu dengan mereka lagi (kekesalan sedang meliputi hati saya karena belum bisa menerima kenyataan yang terjadi). Saya menutup diri selama beberapa hari dengan hanya berdiam diri di kamar untuk instropeksi diri. Setelah beberapa hari berinstropeksi, akhirnya saya dapat dengan lapang dada menerima kenyataan bahwa saya gagal dalam ujian menjadi kepala dusun.
Saya berbaikan kembali dengan para panitia yang sebelumnya saya sangat kecewa dengan mereka dan mereka pun menyambut kedatangan saya dengan baik dan ramah. Hubungan kami menjadi baik kembali.
Pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa :
- 1. Semua yang saya inginkan/impikan harus diperjuangkan/diusahakan dengan sekuat tenaga.
- 2. Keinginan itu harus berasal dari dalam hati saya sendiri bukan karena dorongan dari orang lain. Memang dorongan dari orang lain sangat berarti, namun lebih bagus lagi jika hati sudah mantap serta mendapat support dari orang – orang tersayang.
- Usaha harus disertai dengan do’a. Saya jadi ingat kata – kata bijak teman saya bahwa, Usaha tanpa doa adalah sombong serta doa tanpa usaha adalah bohong.
- Hidup adalah sebuah pilihan seperti saya akhirnya memilih berbaikan dengan para panitia yang mana hal itu sangat berpengaruh dalam hubungan kami yang hingga hari ini semakin baik dari sebelumnya.
- Kegagalan adalah satu pembelajaran yang sangat berharga. Dengan kegagalan, kita akan menjadi lebih dewasa, lebih matang, dan semakin dekat dengan kesuksesan. Saya selalu ingat bahwa gagal adalah sukses yang tertunda.
Semoga pengalaman saya ini yang telah saya jadikan pelajaran yang sangat berharga juga dapat menjadi pembelajaran bagi Anda, serta dapat diambil pelajaran juga..
Semoga bermanfaat dan kita menjadi insan yang lebih baik lagi.
Artikel Terkait
Tags: Pelaku Perubahan